Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan). Presiden Zelensky mengatakan ia akan melakukan perjalanan ke Turki minggu ini dan menunggu untuk mengadakan pembicaraan tatap muka dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Tangkapan layar JL/Al Jazeera)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak kedua pihak untuk hadir sebagai bagian dari upaya Washington menghentikan pertempuran. Trump bahkan menawarkan diri untuk ikut serta dalam pembicaraan.
Trump mengatakan pada hari Senin bahwa ia “sedang mempertimbangkan untuk benar-benar terbang” ke Istanbul guna menghadiri negosiasi. Pernyataan itu disambut baik oleh Zelenskyy, tetapi tidak ada tanggapan dari Moskow.
“Seluruh rakyat Ukraina akan menghargai jika Presiden Trump dapat hadir bersama kami dalam pertemuan ini di Turki. Ini ide yang tepat. Kita bisa mengubah banyak hal,” kata Zelenskyy.
Trump secara terbuka meminta Zelensky untuk hadir, setelah Putin pada hari Minggu mengusulkan pembicaraan langsung menyusul penolakan terhadap gencatan senjata 30 hari yang diinginkan Ukraina dan sekutu Baratnya sebagai prasyarat.
Zelenskyy mengatakan ia bersedia, tetapi dengan syarat bahwa Putin juga hadir secara langsung. Pada hari Selasa, penasihatnya Mykhailo Podolyak menegaskan kembali bahwa Zelensky hanya akan bertemu dengan Putin dan bukan anggota delegasi Rusia lainnya.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz kembali mendesak diberlakukannya gencatan senjata 30 hari tanpa syarat pada hari Selasa. “Kami menunggu persetujuan dari Putin,” katanya.
“Kami sepakat bahwa jika tidak ada kemajuan nyata minggu ini, kami akan mendorong di tingkat Eropa untuk memperketat sanksi secara signifikan… Kami akan fokus pada bidang lain, seperti sektor energi dan pasar keuangan,” tambah Merz dikutip JurnaLodie.com dari Al Jazeera.