Tentara Prancis di kendaraan lapis baja. Uni Eropa mulai menyusun rencana besar untuk mempercepat pergerakan tank dan tentara di seluruh benua. (Kolase Guardian)
BRUSSELS, JurnaLodie.com – Uni Eropa mulai menyusun rencana besar untuk mempercepat pergerakan tank dan tentara di seluruh benua. Langkah ini muncul setelah kekhawatiran meningkatnya ancaman Rusia.
Komisi Eropa berupaya melonggarkan aturan lintas batas demi menciptakan zona “militer Schengen”.
Zona ini bertujuan mempercepat mobilitas militer seperti perjalanan warga sipil.
Para pejabat menilai pergerakan pasukan saat ini masih terhambat banyak aturan.
Selain itu, infrastruktur di beberapa negara belum mampu menahan beban kendaraan tempur.
UE menemukan beberapa jembatan tidak mampu menahan tank seberat 60 ton. Kemudian, sejumlah terowongan kereta terlalu kecil untuk kendaraan militer besar.
Beberapa negara masih membutuhkan izin lintas batas hingga 45 hari. Pejabat UE menilai aturan tersebut tidak sesuai kebutuhan pertahanan modern.
Kepala kebijakan luar negeri UE, Kaja Kallas, menegaskan reformasi mobilitas militer sangat mendesak. Ia menyebut mobilitas cepat sebagai “polis asuransi penting bagi keamanan Eropa”.
Komisi juga mengusulkan sistem darurat untuk perjalanan militer. Sistem itu memberi prioritas penuh bagi konvoi militer di jaringan transportasi.
500 Infrastruktur Penting
Pasukan akan mendapat pengecualian dari aturan Uni Eropa seperti waktu istirahat wajib pengemudi. Bea cukai untuk logistik militer juga akan dipangkas.
UE telah mengidentifikasi sekitar 500 infrastruktur penting yang perlu diperkuat. Daftar itu mencakup jembatan, pelabuhan, bandara, dan jalan utama.
Komisi memperkirakan biaya peningkatan mencapai €100 miliar. Anggaran itu diarahkan untuk memastikan Eropa siap menghadapi krisis pada 2030.