Infografis Israel Lancarkan Serangan Udara di Lebanon Selatan. Militer Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran di wilayah Lebanon Selatan pada Kamis (6/11/2025) waktu setempat, menandai peningkatan ketegangan baru di kawasan tersebut. (Kolase JurnaLodie.com)
Juru bicara pemerintah Israel Shosh Bedrosian mengatakan negaranya tidak akan mengizinkan Hizbullah memulihkan kekuatan militernya.
“Israel akan terus mempertahankan seluruh perbatasannya dan menegakkan perjanjian gencatan senjata dengan Lebanon,” ujarnya.
Israel menuding Hizbullah masih menyimpan senjata berat di selatan, meski telah menyatakan komitmen pada gencatan senjata. Sementara Hizbullah menyebut pihaknya tetap memiliki “hak sah untuk melawan Israel” dan menolak pelucutan senjata penuh.
Militer Lebanon mengutuk serangan tersebut, menyebutnya sebagai tindakan destruktif yang mengancam stabilitas nasional.
Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) menilai serangan Israel merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006), yang bertujuan menjaga perdamaian di sepanjang perbatasan Lebanon–Israel.
“Kami menyerukan Israel untuk segera menghentikan serangan-serangan ini. Semua pihak harus menahan diri agar situasi tidak memburuk,” demikian pernyataan resmi UNIFIL.
Serangan tersebut terjadi bersamaan dengan rapat kabinet Lebanon, di mana Komandan Angkatan Darat Rodolphe Haykal melaporkan perkembangan operasi pelucutan senjata Hizbullah di Lebanon selatan.
Salah satu lokasi yang terdampak adalah pabrik besi di kota Abbasiyeh, yang hancur total.
“Toko ini dulunya menghidupi lima atau enam rumah tangga. Kami hanya membuat kursi, pagar, jendela — bukan senjata,” ujar Ahmad al-Kayyal, pemilik pabrik.
Ketegangan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kawasan akan kembali menuju eskalasi konflik besar antara Israel dan Hizbullah.