Infografis hasil survei Vero yang dirilis pada Senin 26 Mei 2025. Industri media di Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar. Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai organisasi berita menandai kondisi yang rapuh dari ekosistem informasi nasional. (Kolase JL/Vero)
JAKARTA, JurnaLodie.com – Dalam beberapa waktu terakhir, industri media di Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar. Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai organisasi berita menandai kondisi yang rapuh dari ekosistem informasi nasional.
Data dari Dewan Pers menyebutkan bahwa lebih dari 1.000 jurnalis terdampak PHK sepanjang 2023 hingga awal 2024—sebuah angka yang mencerminkan disrupsi besar dalam struktur pendanaan dan operasional media.
Namun, di tengah ketidakpastian ini, peran media dalam menjaga kualitas demokrasi dan keterbukaan informasi tetap tidak tergantikan.
Di sinilah pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk brand dan sektor swasta, dalam menjaga keberlanjutan media independen di Indonesia.
Survei Jurnalis: Tantangan dan Peluang di Tengah Disrupsi Digital
Sebuah survei yang dilakukan oleh Vero, agensi komunikasi strategis di Asia Tenggara, terhadap lebih dari 100 jurnalis dan editor dari berbagai wilayah Indonesia, mengungkapkan dinamika terkini di ruang redaksi.
Disrupsi digital dan perubahan perilaku audiens menjadi sorotan utama, dengan 44,1% responden menyebutnya sebagai tantangan paling mendesak.
Tren ini sejalan dengan semakin populernya konten video pendek, algoritma media sosial yang mendominasi konsumsi berita, serta menurunnya kepercayaan terhadap informasi digital.
Media konvensional dituntut untuk beradaptasi agar tetap relevan, namun dalam prosesnya mereka juga harus menghadapi kendala sumber daya dan tekanan bisnis.
Selain itu, berdasarkan temuan Vero yang dikutip JurnaLodie.com pada Rabu 28 Mei 2025, 33,3% responden mengungkapkan kekhawatiran terhadap ketidakstabilan finansial sebagai faktor utama yang menghambat kinerja jurnalistik.