Perdana Menteri Indira Gandhi dari India (kanan) dan Presiden Pakistan Zulfiqar Ali Bhutto menandatangani perjanjian damai pada 4 Juli 1972 di Simla. Insert tentara India berjaga. (Kolase JL/AFP/AP)
Beberapa serangan besar seperti serangan Parlemen India pada tahun 2001, serangan Mumbai 2008, dan serangan Pulwama 2019 sering memicu tindakan militer balasan dari India. India biasanya menuduh kelompok militan berbasis di Pakistan sebagai pelaku, yang sering kali dibantah oleh Islamabad.
Krisis Terbaru (2025)
Krisis kali ini dipicu oleh serangan pada 22 April terhadap turis di Pahalgam, Kashmir yang dikuasai India, yang menewaskan 26 orang. Kelompok bersenjata The Resistance Front (TRF) mengklaim bertanggung jawab. India menyebut TRF adalah cabang dari Lashkar-e-Taiba (LeT) yang berbasis di Pakistan, tuduhan yang dibantah oleh Pakistan.
Pada 7 Mei, India meluncurkan Operasi Sindoor, serangan rudal ke enam kota di Pakistan dan wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan. Pakistan melaporkan setidaknya 31 orang tewas, termasuk dua anak-anak. Setelah itu, terjadi saling serang dengan drone dan rudal antar kedua negara.
Inti Masalah Saat Ini
Kedua negara menuduh satu sama lain sebagai pihak agresor.
India mengklaim hanya menargetkan “infrastruktur teroris”, sementara Pakistan menyebut korban tewas adalah warga sipil.
Pakistan membantah melakukan serangan balasan dengan rudal atau drone.
Masing-masing memosisikan diri sebagai korban.
Kesimpulan
Ketegangan saat ini adalah salah satu yang paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kedua negara memiliki senjata nuklir dan sejarah panjang konflik yang belum terselesaikan. Krisis ini berpotensi berkembang menjadi perang besar jika tidak diredam melalui diplomasi atau campur tangan internasional. (*)