Ribuan orang berpartisipasi dalam apa yang disebut 'Great People's March' di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Belem, negara bagian Para, Brasil (Kolase Pablo Porciuncula/AFP)
BELEM, Jurnalodie.com — Ribuan orang turun ke jalan di Kota Belem, Brasil, yang menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB (CPO26).
Mereka menuntut keadilan iklim, penghentian bahan bakar fosil, serta perlindungan bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh krisis iklim.
Aksi besar ini sekaligus menjadi protes publik terbesar dalam gelaran COP dalam empat tahun terakhir.
Aksi Massa Dipimpin Masyarakat Adat
Puluhan ribu demonstran memenuhi jalan-jalan di jantung Amazon dan menari mengikuti alunan musik dari pengeras suara sambil menyuarakan tuntutan perubahan Iklim secara lebih tegas.
Selain itu, masyarakat adat memimpin aksi tersebut dan membawa pesan bahwa komunitas mereka menjadi pihak yang paling terdampak kerusakan lingkungan.
Di tengah panas terik, para aktivis menggulirkan bola pantai raksasa berbentuk Bumi untuk menegaskan bahwa planet ini berada dalam ancaman.
Mereka juga meneriakkan yel-yel yang menuntut pemerintah dunia segera mengakhiri era bahan bakar fosil.
Untuk memperkuat pesan protes, sekelompok demonstran menggelar prosesi pemakaman simbolis.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan memerankan janda yang berkabung.
Tiga peti mati bertuliskan “batu bara”, “minyak”, dan “gas” langsung menyita perhatian publik.
Aksi ini menjadi protes besar pertama pada forum iklim sejak COP26 di Glasgow.
Dalam tiga pertemuan terakhir — Mesir, Uni Emirat Arab, dan Azerbaijan — lokasi konferensi membatasi aksi demonstrasi besar-besaran sehingga suara publik sulit terdengar.
Demonstrasi Terbesar di COP30
Disebut sebagai “Pawai Rakyat Hebat”, aksi ini berlangsung ketika negosiasi pekan pertama mengalami kebuntuan.