Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ukraina telah terpojok dan harus mempertimbangkan persyaratan yang tidak dapat diterimanya dan menghadapi ancaman kehilangan sekutu terpentingnya. (Kolase JL/Gavriil Grigorov/AFP/Getty Images)
Selain itu, musim dingin yang berat dapat muncul tanpa dukungan tersebut.
Para analis Rusia memprediksi Putin akan meminta konsesi lanjutan. Anton Barbashin menilai sekitar 30% isi dokumen tetap tidak dapat diterima Kremlin.
Ia mengatakan Putin pasti meminta amandemen.
Menurut laporan The Guardian, Peneliti Tatiana Stanovaya menyebut rancangan itu terlalu kabur.
Ia menilai Putin menginginkan dokumen lebih konkret, termasuk jadwal dan komitmen tertulis mengenai netralitas Ukraina.
Stanovaya percaya Putin tidak akan meninggalkan tujuan utama: menundukkan Ukraina.
Kremlin Akan Melanjutkan Perang
Bila diplomasi macet, ia memperkirakan Kremlin akan tetap melanjutkan perang.
Putin juga menunggu dinamika di Washington. Ia ingin melihat siapa yang menang dalam perdebatan internal pemerintah AS mengenai rencana tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa rencana itu dibuat AS. Namun, interpretasi beragam muncul di dalam Partai Republik.
Kyiv berharap dukungan Eropa dapat membentuk ulang dokumen itu.
Pada Senin, AS dan Ukraina menghasilkan rencana baru berisi 19 poin yang lebih ramah bagi Kyiv.
Namun, isu paling sensitif tetap ditunda.
Moskow hampir pasti menolak usulan baru itu. Bahkan, Kremlin diperkirakan akan mengembalikan proses ke rancangan awal berisi 28 poin.
Menurut analis Fyodor Lukyanov, Putin kemungkinan menunggu perkembangan tanpa banyak bergerak.
Ia mengatakan Rusia akan mempertahankan tekanan militer hingga Ukraina menerima draf asli. “Bolanya ada di sisi lain,” ujar Lukyanov.
(*)