Pemilih menyelupkan jari ke tinta setelah memberikan suara di tempat pemungutan suara selama fase pertama pemilihan umum Myanmar di Yangon. (JL/Lillian Suwanrumpha/AFP/Getty Images)
NAYPYIDAW, JurnaLodie.com – Tempat pemungutan suara dibuka di sejumlah wilayah konflik Myanmar untuk pemilu yang banyak pihak nilai sebagai sandiwara junta.
Partai oposisi utama tak boleh ikut serta, sementara sebagian besar wilayah tidak ada pencoblosan karena kelompok anti-junta menguasai.
Kampanye berlangsung sepi tanpa pawai massa, berbeda dengan pemilu Myanmar sebelumnya.
Simbol Aung San Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi tidak terlihat di jalanan.
Militer menahan Suu Kyi sejak kudeta 2021 dan resmi melarang partainya.
Menurut laporan The Guardian, PBB dan negara Barat mengecam pemilu Myanmar sebagai tidak sah dan represif.
China justru mendukung pemilu dan mengirim pengamat bersama Rusia, India, dan Vietnam.
Militer mengklaim pemilu berlangsung atas dukungan rakyat Myanmar, bukan tekanan internasional.
Mencabut Jam Malam
Junta mencabut jam malam di Yangon dengan alasan situasi keamanan membaik.
Konflik bersenjata tetap berlanjut di banyak wilayah menjelang pemungutan suara.
Militer melancarkan serangan udara di Sagaing beberapa jam sebelum pemilu dimulai.
Ledakan terjadi di dekat tempat pemungutan suara di Pyay dan Myawaddy.
Warga Yangon enggan berbicara karena takut pembalasan dari militer.
Junta menangkap puluhan ribu orang atas tuduhan menentang politik sejak kudeta.
Undang-undang baru melarang kritik pemilu dengan ancaman penjara hingga hukuman mati.
Aktivis HAM menilai pemilu bertujuan menciptakan legitimasi palsu bagi junta.
Sementara, PBB menyebut pemilu berlangsung dalam kekerasan dan penindasan sistematis.