Paus Leo XIV dan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Umat Kristen Turki terus berjuang mendapatkan perwakilan layak di bawah pemerintahan Erdogan yang berakar Islam. (Andreas SOLARO/AFP/IHA)
ANKARA, JurnaLodie.com – Paus Leo XIV menuju Turki. Umat Kristen Turki terus berjuang mendapatkan perwakilan layak di bawah pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan yang berakar Islam.
Meskipun tidak ada larangan hukum, banyak posisi pegawai negeri tetap tertutup bagi mereka.
Namun, kunjungan Paus Leo XIV minggu ini akhirnya menarik perhatian dunia terhadap isu ketidaksetaraan tersebut. Kunjungan ini sekaligus menghidupkan kembali diskusi panjang mengenai hak-hak minoritas di Turki.
Selanjutnya, komunitas Kristen menilai pernyataan Presiden Erdogan sering membuat mereka merasa terpinggirkan. Hal itu karena ia selalu menegaskan bahwa 99 persen penduduk Turki beragama Islam.
Karena itu, tokoh Asiria Yuhanna Aktas mengatakan umat Kristen tidak dianggap sebagai warga negara penuh.
Pandangan itu kemudian muncul setelah puluhan tahun minoritas menghadapi diskriminasi.
Saat ini, jumlah umat Kristen hanya sekitar 100.000 jiwa, turun drastis dari hampir empat juta pada awal abad ke-20.
Penurunan itu terjadi setelah pengasingan paksa dan kekerasan pada akhir Kekaisaran Ottoman.
Selain itu, Paus Leo XIV dijadwalkan bertemu pemimpin Kristen di Gereja Mor Ephrem, gereja pertama yang dibangun sejak 1923.
Hanya Satu Pejabat Tinggi Non-Muslim
Meskipun lahannya diberikan negara, hanya gereja itu yang berhasil berdiri selama republik berdiri.
Kemudian, para pengamat menyoroti bahwa minoritas tetap kesulitan memperoleh jabatan publik.
Editor Agos, Yetvart Danzikyan, mengatakan hanya satu pejabat tinggi non-Muslim yang bertugas di Turki.
Selama beberapa dekade, minoritas Kristen dan Yahudi sering digambarkan sebagai “musuh dari dalam”. Gambaran itu selanjutnya memicu diskriminasi dan kekerasan hingga awal 2000-an.