Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Para ahli mengatakan bahwa penangguhan tarif mencerminkan keberhasilan Tiongkok dalam mempertahankan posisinya, sementara Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan domestik. (Kolase JL/shutterstock)
BEIJING, JurnaLodie.com – Para ahli mengatakan bahwa penangguhan tarif mencerminkan keberhasilan Tiongkok dalam mempertahankan posisinya, sementara Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan domestik.
Pada hari Senin, Amerika Serikat dan Tiongkok mencapai kesepakatan untuk menangguhkan tarif tinggi atas impor masing-masing selama 90 hari.
Terobosan ini menandai meredanya perang tarif yang diluncurkan Trump sejak kembali menjabat pada Januari lalu. Awalnya, Trump menerapkan tarif terhadap sebagian besar negara, tetapi kemudian menangguhkannya—kecuali terhadap China, rival ekonomi terbesar AS.
Perang tarif balasan antara AS dan Tiongkok meningkat tajam, dengan tarif setinggi 145 persen terhadap barang China ke AS, dan 125 persen terhadap produk AS yang masuk ke China.
Dikutip JurnaLodie.com dari Al Jazeera, Trump mengatakan bahwa ia bisa berbicara dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan ini, dan menyebut negosiasi ini sebagai “reset” hubungan ekonomi kedua negara.
Apa yang Dikatakan Tiongkok dan AS?
Kedua negara merilis pernyataan bersama pada Senin yang mengumumkan penangguhan tarif.
Pernyataan ini muncul setelah dua hari pembicaraan dagang di Jenewa, Swiss. Meski sebelumnya Trump berulang kali menyatakan bahwa negosiasi tarif sedang berlangsung, pejabat di Beijing sempat membantah bahwa ada pembicaraan hingga akhirnya bertemu di Jenewa.
Dalam pernyataan tersebut, mereka mengakui pentingnya hubungan dagang dan ekonomi bilateral yang berkelanjutan, jangka panjang, dan saling menguntungkan.