Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dalam jumpa pers setelah menghadiri konferensi bertajuk "Hukum Internasional di Bawah Serangan: Agresi dan Bela Diri," di Teheran, Iran, 16 November 2025. (Kolase AP/Vahid Salemi)
TEHERAN, Jurnalodie.com — Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Iran akan tetap melanjutkan program pengayaan uranium.
Meski begitu, Abbas mengakui bahwa serangan Israel dan Amerika Serikat telah menghentikan proses tersebut di seluruh fasilitas nuklir negara itu.
Selain itu, Iran juga menggelar konferensi internasional guna menyampaikan pandangannya terhadap perang 12 hari yang mengguncang kawasan.
Pengayaan Uranium Terhenti karena Serangan
Pemerintah Iran akhirnya memberikan pernyataan paling langsung mengenai kondisi program nuklirnya.
Araghchi mengatakan bahwa Teheran tidak lagi memperkaya uranium di lokasi mana pun akibat serangan gabungan Israel dan AS pada bulan Juni.
Menjawab pertanyaan jurnalis Associated Press yang tengah berkunjung, Araghchi menegaskan bahwa seluruh fasilitas nuklir Iran berada di bawah pengawasan IAEA.
“Saat ini tidak ada pengayaan karena fasilitas kami—fasilitas pengayaan kami—telah diserang,” ujar Araghchi dikutip Aljazeera.
Pengayaan Uranium untuk Tujuan Damai
Meskipun pengayaan terhenti, Araghchi menegaskan bahwa hak Iran atas teknologi nuklir tetap tidak bisa diganggu gugat.
Ia bahkan menekankan bahwa negara-negara dunia harus mengakui hak tersebut.
“Hak Iran untuk pengayaan dan penggunaan teknologi nuklir secara damai tidak dapat disangkal. Kami tidak akan pernah melepaskan hak-hak kami,” tegasnya.
Selain itu, ia menuding Washington belum menunjukkan kesiapan untuk melakukan negosiasi yang “setara dan adil”, meskipun Presiden AS Donald Trump sempat membuka peluang dialog.
Negosiasi Nuklir Mandek
Teheran dan Washington sebelumnya telah menjalani lima putaran perundingan nuklir tidak langsung. Namun, perundingan mandek setelah perang 12 hari meletus, terutama karena AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dalam negeri.