Blackpink, tampil di ajang MTV VMAs 2022 di Newark, New Jersey. Dominasi hiburan Korea Selatan di panggung global tampaknya masih sulit ditandingi. (JL/Theo Wargo/Getty Images for MTV/Paramount Global)
Meski sarat estetika Korea dan melibatkan kreator berdarah Korea, film ini merupakan produksi Amerika.
Menurut Jeong, ini menunjukkan bahwa konsep budaya Korea kini sangat portabel dan bisa reproduksi secara global tanpa keterlibatan langsung Korea Selatan.
Grup-grup dengan sistem pelatihan ala K-pop pun mulai bermunculan di Jepang dan Asia Tenggara, menciptakan persaingan baru.
Meski begitu, minat terhadap pengalaman budaya Korea yang autentik tetap tinggi.
Setelah penayangan film tersebut, museum, merek makanan, dan kosmetik Korea mencatat peningkatan minat signifikan.
Upaya Pemerintah dan Tantangan Keaslian
Pemerintah Korea Selatan merespons dengan rencana investasi budaya lima tahun senilai 51,4 triliun won, mencakup ekspor konten, pelatihan seni, pariwisata, dan olahraga.
Presiden Lee Jae Myung bahkan menunjuk pendiri JYP Entertainment, Park Jin-young, sebagai ketua bersama komite budaya kepresidenan.
Agensi besar seperti HYBE dan SM Entertainment juga berekspansi ke Asia Tenggara, India, dan Tiongkok.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa ekspansi global berlebihan berisiko mengabaikan ekosistem domestik dan mengikis keaslian budaya yang menjadi daya tarik utama Korean Wave.
“Industri hiburan Korea akan terus menghasilkan uang,” kata Jeong, “tetapi kesuksesan finansial saja tidak cukup untuk menjamin pembaruan kreatif.”
(*)