Blackpink, tampil di ajang MTV VMAs 2022 di Newark, New Jersey. Dominasi hiburan Korea Selatan di panggung global tampaknya masih sulit ditandingi. (JL/Theo Wargo/Getty Images for MTV/Paramount Global)
Akibatnya, banyak talenta kini beralih ke platform streaming yang lebih stabil.
Penyusutan “jendela tayang bioskop” yang kini hanya beberapa minggu juga membuat penonton enggan datang ke bioskop.
Tekanan ini memicu konsolidasi besar-besaran, termasuk rencana penggabungan jaringan Lotte Cinema dan Megabox dengan total 1.682 layar.
K-pop Masuki Masa Penentuan
Krisis tak hanya melanda perfilman. Industri K-pop—ikon global Korea Selatan—juga menghadapi masa sulit.
Penjualan album fisik turun 19,5% pada 2024, dari 115,2 juta unit menjadi 92,7 juta unit, menandai penurunan pertama dalam satu dekade.
Sebagai respons, agensi besar mengalihkan fokus ke tur konser global, yang kini menghasilkan pendapatan lebih besar banding penjualan album.
Menurut laporan The Guardian, Profesor studi Korea dari Arizona State University, Areum Jeong, menilai perusahaan K-pop kini semakin memusatkan perhatian pada penggemar inti yang loyal dan konsumtif.
Namun, strategi ini dinilai mempersempit jangkauan publik dan memengaruhi proses perekrutan, pelatihan, serta pemasaran idola.
Muncul pertanyaan besar: apakah model ini masih mampu melahirkan fenomena global seperti BTS atau Blackpink?
Agensi kecil yang dulu menjadi sumber eksperimen dan keberagaman kini justru terdesak, terhimpit biaya produksi yang meningkat dan menurunnya belanja penggemar.
Budaya Korea Mendunia, Tapi Bukan Selalu Milik Korea
Fenomena menarik juga muncul ketika ide-ide budaya Korea sukses secara global, namun tidak selalu menguntungkan perusahaan Korea.
Film animasi Netflix KPop Demon Hunters, misalnya, menjadi salah satu film animasi paling populer di platform tersebut.