Blackpink, tampil di ajang MTV VMAs 2022 di Newark, New Jersey. Dominasi hiburan Korea Selatan di panggung global tampaknya masih sulit ditandingi. (JL/Theo Wargo/Getty Images for MTV/Paramount Global)
JurnaLodie.com – Dominasi hiburan Korea Selatan di panggung global tampaknya masih sulit ditandingi.
Dari kesuksesan BTS yang menaklukkan tangga lagu dunia, film Parasite yang menyapu Oscar 2020.
Drama Korea yang rutin menduduki peringkat teratas Netflix, budaya populer Korea berada di puncak popularitasnya.
Pada 2024, ekspor budaya Korea Selatan bahkan mencetak rekor senilai US$15,18 miliar, mempertegas status negara tersebut sebagai kekuatan budaya global.
Namun, di balik gemerlap kesuksesan internasional, dua pilar utama Korean Wave—industri perfilman. Dan K-pop—sedang mengalami tekanan serius yang berpotensi menggoyahkan fondasi kreatif mereka.
Industri Film Korea Hampir Runtuh
Sektor perfilman menjadi yang paling terdampak. Jumlah penonton bioskop di Korea Selatan turun 45% sejak 2019, dari sekitar 226 juta menjadi hanya 123 juta penonton.
Pendapatan box office juga anjlok drastis dari US$1,3 miliar menjadi US$812 juta.
Investasi yang melambat membuat distributor film Korea yang sebelumnya merilis lebih dari 40 film lokal per tahun.
Kini perkiraan hanya mampu merilis sekitar 20 film pada 2025.
Bahkan, tahun 2026 diperingatkan bisa menjadi lebih buruk seiring menipisnya stok film tertunda akibat pandemi.
Sutradara terkenal Kim Han-min, pembuat trilogi Yi Sun-sin, secara terbuka menyebut industri ini sebagai sektor yang “hampir runtuh”.
Profesor film Universitas Hanyang, Jason Bechervaise, menilai masalah ini bersifat struktural.
Menurutnya, biaya produksi yang meningkat dan margin keuntungan yang menipis telah mematikan film beranggaran menengah. Ruang penting bagi sutradara baru dan eksperimen kreatif.