Infografis gempa bumi mengguncang wilayah Maluku Utara pada Minggu, 25 Januari 2026, pukul 06.42.37 WIB. Getaran gempa terasa di sejumlah daerah, termasuk Halmahera Utara, Ternate, dan Tidore. (JL/BMKG)
Maluku Utara terletak di zona pertemuan Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Laut Filipina.
Selain itu, kawasan ini juga terpengaruh oleh aktivitas sesar lokal serta jalur gunung api aktif. Kondisi ini menjadikan Maluku Utara sangat rentan terhadap gempa tektonik maupun gempa vulkanik.
Sejarah mencatat, gempa bumi telah berulang kali mengguncang wilayah Maluku Utara sejak masa kolonial. Beberapa gempa besar pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 merusak permukiman, pelabuhan, dan fasilitas penting di pulau-pulau seperti Halmahera, Ternate, dan Tidore.
Pada masa itu, keterbatasan teknologi membuat dampak gempa sering kali hanya dari laporan lisan dan arsip kolonial.
Gempa Besar yang Pernah Terjadi
Dalam sejarah modern, Maluku Utara mengalami sejumlah gempa signifikan, di antaranya:
Gempa Halmahera 2019, yang menimbulkan kerusakan bangunan dan menyebabkan korban jiwa
Gempa-gempa dangkal di sekitar Halmahera Utara dan Halmahera Selatan yang kerap terasa masyarakat
Aktivitas seismik di sekitar Sofifi, Ternate, dan Tidore yang sering menimbulkan gempa dengan magnitudo menengah
Sebagian gempa tersebut terjadi di darat dengan kedalaman dangkal, sehingga getarannya terasa kuat meskipun magnitudonya tidak terlalu besar.
Sejarah gempa di Maluku Utara mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memperkuat sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, serta pembangunan infrastruktur tahan gempa.
Masyarakat juga diimbau untuk memahami jalur evakuasi dan langkah penyelamatan diri sebagai bagian dari mitigasi bencana.