Dewan Keamanan PBB mendukung rencana Trump terkait Gaza. (Tangkapan layar Guardian)
Tambahan referensi mengenai negara Palestina menjadi kompromi utama dalam draf final. Namun, bahasa yang digunakan tetap samar.
AS hanya menjanjikan bahwa setelah Otoritas Palestina menjalani reformasi dan proses rekonstruksi Gaza berjalan, “kondisi mungkin tersedia untuk jalur kredibel menuju kenegaraan Palestina.”
Dengan demikian, komitmen terhadap solusi dua negara belum tercapai sepenuhnya.
Meski begitu, perwakilan dari negara-negara Arab, Islam, dan Eropa menyatakan bahwa mereka menerima kompromi tersebut demi memperpanjang gencatan senjata dan menjamin keselamatan 2,2 juta warga Palestina di Gaza.
Negara-Negara Arab Dukung Demi Gencatan Senjata
Utusan Inggris, James Kariuki, menegaskan bahwa pengaturan transisi harus menghormati hukum internasional dan hak-hak Palestina.
Sementara itu, perwakilan Aljazair, Amar Bendjama, menegaskan bahwa dokumen tersebut menjadi “benih kedaulatan Palestina” dan menekankan pentingnya membaca resolusi beserta lampirannya secara utuh.
Aljazair akhirnya memilih mendukung resolusi tersebut untuk memastikan gencatan senjata tetap berjalan dan membuka peluang bagi rakyat Palestina mendapatkan hak bernegara.
Netanyahu Tarik Dukungan Setelah Ditekan Koalisi Sayap Kanan
Sementara itu, Netanyahu sempat menyetujui resolusi tersebut dalam pembicaraan dengan Washington. Namun, ia menarik kembali dukungannya setelah menghadapi tekanan besar dari mitra koalisi sayap kanan. “Penentangan kami terhadap negara Palestina tidak berubah,” tegas Netanyahu.
Langkah itu memperbesar ketidakpastian mengenai implementasi resolusi, terutama karena Israel memegang kontrol keamanan di Gaza pascaperang.