Kebakaran tersebut menghanguskan tujuh dari delapan gedung apartemen bertingkat tinggi di Wang Fuk Court, sebuah kompleks perumahan yang dihuni 4.800 orang. (Kolase JL/Xinhua/Shutterstock)
Pernyataan itu kini menambah kecurigaan publik terhadap minimnya regulasi keselamatan.
Pada Kamis, polisi menangkap tiga orang yang terkait dengan perusahaan pemeliharaan gedung tersebut.
Selain itu, badan pengawas korupsi Hong Kong membuka penyelidikan kriminal terhadap pekerjaan renovasi, menandakan dugaan pelanggaran yang lebih serius.
Beijing Bergerak Cepat
Namun, para ahli hukum meragukan adanya penyelidikan independen. Mereka menilai peradilan Hong Kong kini kurang bebas dalam menangani kasus sensitif.
Kritik ini muncul seiring menurunnya kepercayaan publik sejak tindakan keras Beijing terhadap gerakan pro-demokrasi.
Sementara itu, Beijing bergerak cepat.
Presiden Xi Jinping menyerukan upaya maksimal untuk memadamkan api, sedangkan perusahaan-perusahaan besar Tiongkok menjanjikan bantuan dana.
Selain itu, Tentara Pembebasan Rakyat siap membantu menjaga kota.
John Lee juga menyatakan pemilu legislatif 7 Desember mungkin ditunda. Namun, banyak pihak menilai keputusan itu dapat bernuansa politis.
Penundaan sebelumnya pada tahun 2020 terjadi saat tekanan terhadap kubu pro-demokrasi meningkat.
Kini, warga Hong Kong tidak hanya menuntut jawaban, tetapi juga transparansi.
Mereka berharap tragedi ini bukan sekadar bencana, tetapi titik balik bagi keselamatan publik yang selama ini diabaikan.
(*)