Kebakaran tersebut menghanguskan tujuh dari delapan gedung apartemen bertingkat tinggi di Wang Fuk Court, sebuah kompleks perumahan yang dihuni 4.800 orang. (Kolase JL/Xinhua/Shutterstock)
HONG KONG, JurnaLodie.com – Kemarahan publik meningkat di Hong Kong setelah kebakaran di Wang Fuk Court menjadi yang paling mematikan dalam lebih dari 70 tahun.
Juga, ratusan warga masih hilang dan jumlah korban tewas terus bertambah.
Namun, pemerintah dinilai belum memberi jawaban jelas tentang penyebab sebenarnya.
Amy Hawkins Koresponden senior Tiongkok dari The Guardian melaporkan, kebakaran besar itu menghancurkan tujuh dari delapan menara apartemen yang dihuni sekitar 4.800 orang.
Sementara itu, petugas pemadam kebakaran mulai membuat kemajuan, tetapi pertanyaan publik semakin keras.
Banyak warga menilai tragedi ini mencerminkan masalah lama: perumahan sempit, bangunan tinggi yang rentan, dan pengawasan konstruksi yang lemah.
Dalam konferensi pers, pemimpin Hong Kong John Lee mengumumkan dana bantuan HK$300 juta untuk korban.
Selain itu, ia menyoroti upaya pemerintah mempertimbangkan penggantian perancah bambu dengan material logam.
Namun, ia juga memberi waktu tujuh hari bagi kontraktor untuk menyerahkan bukti penggunaan material tahan api.
Minimnya Regulasi Keselamatan
Meskipun begitu, fokus Lee pada perancah bambu memicu kemarahan warga. Mereka menilai isu itu mengalihkan perhatian dari penyebab lebih besar yang belum terungkap.
Kemudian, perancah bambu dianggap bagian dari warisan budaya lokal, bukan akar masalah renovasi yang diduga bermasalah.
Beberapa warga mengaku sudah lama mengeluh tentang perilaku perusahaan konstruksi.
Selain itu, sebuah surel lama dari Departemen Ketenagakerjaan menyatakan risiko kebakaran dari perancah rendah.