Kim Moon-soo (kiri) dan Lee Jae-myung. Penting Pemilu Presiden Korea Selatan 2025 untuk memulihkan demokrasi di tengah krisis. (Kolase JL/Kim Hong-Ji/Reuters)
Menghadapi tantangan besar usai kejatuhan Yoon.
Hanya 55% pemilih konservatif yang mendukung Kim, sisanya kecewa.
Janji kampanye utama:
Deregulasi ekonomi
Peningkatan anggaran militer melawan Korea Utara
Pertemuan cepat dengan Trump terkait ancaman tarif ekspor
Tetap menyatakan bahwa pemakzulan Yoon “terlalu berlebihan”, yang bisa mengalienasi pemilih moderat.
Kebijakan Luar Negeri: Ketegangan Global
Tarif dagang dari Presiden AS Donald Trump mengancam ekspor utama Korea Selatan (baja, semikonduktor, mobil):
Kim: Pendekatan negosiasi, segera temui Trump.
Lee: Pendekatan pragmatis multilateral, tetap jaga hubungan dengan AS tapi juga bangun relasi dengan China dan Rusia.
Isu Lebih Besar dari Politik
Pengangguran anak muda, pekerja tidak tetap (38% dari total pekerja), dan krisis iklim menjadi sorotan.
Korea Selatan dijuluki “penjahat iklim” global, yang bisa berdampak pada ekspor jika tidak mengurangi emisi.
Lim Woon-taek, sosiolog: “Ini bukan sekadar pemilu, tapi referendum tentang arah masa depan bangsa.”
Kapan Hasil Diumumkan?
Hasil diperkirakan akan keluar pada Selasa malam atau Rabu dini hari (4 Juni).
Proses bisa tertunda karena pengawasan ketat penghitungan suara akibat kekhawatiran soal kesalahan sistem.
Pada 2022, Yoon dinyatakan menang pada pukul 04.40 pagi setelah hari pemilu.
Pemilu ini bukan hanya memilih presiden, tetapi juga memulihkan legitimasi demokrasi, mengakhiri krisis nasional, dan menentukan arah baru Korea Selatan di tengah perubahan geopolitik dan tantangan ekonomi yang semakin kompleks.