Kim Moon-soo (kiri) dan Lee Jae-myung. Penting Pemilu Presiden Korea Selatan 2025 untuk memulihkan demokrasi di tengah krisis. (Kolase JL/Kim Hong-Ji/Reuters)
SEOUL, JurnaLodie.com – Penting Pemilu Presiden Korea Selatan 2025 untuk memulihkan demokrasi di tengah krisis.
Pemilu ini berlangsung setelah pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol, yang dituduh memimpin pemberontakan.
Penyalahgunaan kekuasaan lewat upaya memberlakukan darurat militer (3 Desember).
Jika terbukti bersalah, Yoon terancam penjara seumur hidup atau hukuman mati.
Krisis ini memecah belah masyarakat, tetapi juga meningkatkan partisipasi politik secara signifikan.
Berikut data Pemilu Presiden Korea Selatan 2025 dikutip JurnaLodie.com dari Al Jazeera:
Hari Pemungutan Suara 3 Juni 2025
Jumlah pemilih terdaftar 44,39 juta
Dua kandidat utama:
Lee Jae-myung (Partai Demokrat): Unggulan teratas
Kim Moon-soo (Partai Kekuatan Rakyat): Tertinggal di posisi kedua
Survei Terbaru (Gallup Korea, 28 Mei):
- Lee Jae-myung: 49%
- Kim Moon-soo: 36%
Lee Jae-myung: Dari Kekalahan Tipis Menjadi Calon Terkuat
Kalah tipis di pemilu 2022 dengan selisih hanya 0,73 poin persentase.
Selamat dari tuduhan suap, penusukan saat konferensi pers, dan tuduhan menyebarkan informasi palsu dalam kampanye sebelumnya.
Dipuji sebagai “pejuang kebebasan politik” setelah memanjat pagar Majelis Nasional saat upaya kudeta militer oleh Yoon.
Janji-janji kampanye utama:
Mengubah masa jabatan presiden menjadi dua periode (dari satu periode 5 tahun)
Mengadili aktor utama dalam upaya kudeta Yoon
Mendorong inovasi melalui kebijakan ramah bisnis (AI, R&D)
Meredakan ketegangan dengan Korea Utara
Memindahkan kantor presiden dan parlemen ke Kota Sejong
Kim Moon-soo: Partai yang Terpecah