Seorang gadis berjalan melewati lumpur di depan rumahnya di daerah terdampak banjir di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Indonesia, pada Jumat, 5 Desember 2025 (JL/Amanda Jufrian/AFP)
JAKARTA, JurnaLodie.com – Hujan deras menghambat pemulihan banjir besar di Asia dan meningkatkan risiko bencana baru.
Jumlah korban tewas melampaui 1.750 jiwa di Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand. Tim penyelamat berjuang membantu jutaan warga yang terdampak banjir dan longsor.
Di Indonesia, pemerintah mengonfirmasi 908 kematian di Aceh. Sebanyak 410 warga masih hilang setelah banjir bandang besar. Lebih dari 800.000 orang terpaksa mengungsi akibat kerusakan parah.
Di Sri Lanka, banjir menyebabkan 607 kematian dan 214 warga masih hilang. Presiden menyebut bencana ini sebagai krisis alam paling menantang di negaranya.
Thailand melaporkan 276 kematian akibat banjir dan longsor. Malaysia dan Vietnam mencatat empat korban jiwa setelah hujan lebat memicu longsor.
Tim Penyelamat Kesulitan
Di Aceh, tim penyelamat kesulitan mencari korban karena hujan lebat terus mengguyur wilayah hulu. Gubernur Aceh memperingatkan ancaman kelaparan di desa terpencil yang belum tersentuh bantuan.
Pemerintah Sri Lanka memperingatkan hujan tambahan yang bisa memicu longsor baru. Lebih dari dua juta warga terdampak banjir dan ribuan rumah mengalami kerusakan berat.
Para ahli menyebut perubahan iklim meningkatkan risiko badai ekstrem di wilayah Asia. Juga penebangan liar di Sumatera memperburuk dampak banjir dengan mendorong air turun lebih cepat ke sungai.
Pemerintah Indonesia mencabut izin penebangan milik 20 perusahaan terkait area hulu. Pemerintah juga menghentikan operasi perusahaan sawit dan tambang di zona rawan bencana.
Para pakar mengatakan hutan hujan berfungsi sebagai spons alami. Hilangnya hutan mempercepat aliran air dan memperbesar risiko banjir.