Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino menari di akhir pengundian Piala Dunia 2026 di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember. (Tangkapan layar Aljazeera)
JurnaLodie.com – FIFA memicu perdebatan besar setelah Gianni Infantino memberikan Hadiah Perdamaian FIFA kepada Presiden AS Donald Trump.
Penghargaan muncul saat FIFA terus menegakkan aturan netralitas politik, tetapi tindakan ini justru menimbulkan kritik luas.
Selanjutnya, banyak pihak menyoroti bahwa penghargaan diberikan kurang dari sehari setelah serangan udara mematikan di Karibia.
Kemudian, mantan pejabat PBB Craig Mokhiber menyebut keputusan itu sebagai perkembangan sangat memalukan bagi dunia olahraga.
Ia juga menilai penghargaan tersebut mencoba menutupi catatan pelanggaran hak asasi manusia yang dituduhkan kepada Trump.
Berikutnya, Infantino menyatakan bahwa Trump layak mendapat penghargaan karena dianggap mendorong perdamaian melalui sejumlah kesepakatan internasional.
Namun, para pengkritik menilai kesepakatan tersebut tidak menyelesaikan persoalan penting terkait Palestina dan hak rakyatnya.
Selain itu, Trump menyebut penghargaan itu sebagai salah satu pencapaian terbesar sepanjang karier politiknya.
Ia tetap menggunakan pidatonya untuk mengkritik kebijakan pendahulunya, Joe Biden, meski acara bersifat seremonial.
Olahraga Harus Menjaga Netralitas Politik
Berbeda dengan itu, Infantino sebelumnya menegaskan bahwa olahraga harus menjaga netralitas politik demi persatuan global.
Dua tahun kemudian, pernyataan itu dianggap bertentangan dengan pemberian penghargaan kepada sosok yang sering membuat pernyataan kontroversial.
Jurnalis sepak bola Zach Lowy bahkan menyamakan keputusan itu dengan memberi penghargaan yang tidak sesuai konteks.