Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Paus Leo XIV. Paus dan para pemimpin Ortodoks merayakan tonggak sejarah penting dalam pertemuan bersejarah di Turki atau Turkiye. (Tangkapan layar Aljazeera)
ANKARA, JurnaLodie.com – Paus Leo XIV dan para pemimpin Ortodoks merayakan tonggak sejarah penting dalam pertemuan bersejarah di Turki atau Turkiye.
Selain itu, kunjungan ini menandai perjalanan luar negeri pertama Paus kelahiran Amerika tersebut sebagai pemimpin Gereja Katolik.
Paus Leo XIV mengecam kekerasan atas nama agama saat berbicara di Iznik. Kemudian, ia menegaskan bahwa umat manusia membutuhkan rekonsiliasi di tengah meningkatnya konflik global.
Karena itu, Paus meminta semua gereja menolak perang dan fundamentalisme.
Upacara ekumenis di Iznik menjadi inti kunjungan Paus.
Para pemimpin Gereja berdoa dalam bahasa Inggris, Yunani, dan Arab dekat reruntuhan basilika abad keempat.
Selain itu, Paus menekankan pentingnya dialog lintas iman sebagai jembatan menuju perdamaian.
Turkiye Sebagai Simbol Sejarah Kristen
Paus memilih Turkiye sebagai tujuan pertama karena negara itu terkait erat dengan asal-usul Kristen.
Patriark Bartholomew I kemudian mengundang Paus bergabung dalam doa bersama untuk memperingati 1.700 tahun Konsili Nicea Pertama.
Di Istanbul, Paus meminta Gereja Katolik lokal melayani para migran dan pengungsi. Selain itu, ia menyebut gereja kecil di Turki sebagai komunitas yang tetap produktif.
Paus kemudian meminta perhatian khusus bagi hampir tiga juta pengungsi, terutama warga Suriah.
Antusiasme Jemaat Mengiringi Kunjungan Paus
Ribuan peziarah memenuhi Katedral Roh Kudus sejak pagi. Mereka berharap melihat Paus secara langsung.
Bahkan, pekerja migran Filipina mengaku sangat tersentuh saat dipilih menyambut Paus di dalam gereja.
Polisi Turki menutup jalan utama di Istanbul untuk rombongan kepausan.