Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ukraina telah terpojok dan harus mempertimbangkan persyaratan yang tidak dapat diterimanya dan menghadapi ancaman kehilangan sekutu terpentingnya. (Kolase JL/Gavriil Grigorov/AFP/Getty Images)
KYIV, JurnaLodie.com – Rencana perdamaian AS–Rusia yang bocor minggu lalu menciptakan kekacauan diplomatik.
Selain itu, rencana ini dinilai memberi keuntungan besar bagi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dokumen berisi 28 poin itu segera membuat Washington, Kyiv, dan ibu kota Eropa panik.
Bahkan dinamika yang muncul kini sangat sesuai dengan skenario yang diinginkan Kremlin.
Putin mendapat posisi tawar tinggi. Ukraina terpojok dan harus mempertimbangkan persyaratan yang tidak dapat diterimanya, sambil takut kehilangan dukungan AS.
Sejak Donald Trump kembali berkuasa, baik Putin maupun Volodymyr Zelenskyy berupaya menunjukkan bahwa mereka mendukung perdamaian.
Namun, Trump justru mengirim sinyal yang berubah-ubah.
Setelah KTT Alaska, Trump tampak condong mendukung Kyiv dengan menyalahkan Rusia. AS bahkan menjatuhkan sanksi minyak besar pada Moskow.
Namun, rencana perdamaian yang dirancang Steve Witkoff dan Kirill Dmitriev dengan cepat membalik situasi.
Trump menerima proposal itu. Ia kemudian mengkritik Kyiv melalui Truth Social dan menuduh Ukraina kurang berterima kasih atas bantuan AS.
Washington Ingin Kyiv Menyetujui
Moskow tetap tenang. Kremlin menghindari komentar selama berhari-hari, hingga Putin mengatakan bahwa dokumen tersebut “dapat menjadi dasar penyelesaian damai final”.
Struktur perundingan AS memberi Rusia keuntungan besar. Washington ingin Kyiv menyetujui rencana itu sebelum delegasi AS pergi ke Moskow.
Bagi Kremlin, langkah Zelenskyy menuju draf itu akan memicu kekacauan politik di Ukraina.
Kyiv juga tidak bisa meninggalkan meja perundingan. Negara itu masih bergantung pada bantuan militer dan intelijen AS.