Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Hamas kembali menegaskan penolakannya terhadap rancangan resolusi Amerika Serikat yang mereka nilai “berbahaya” dan mengancam kedaulatan Palestina. (Kolase ToI)
GAZA, JurnaLodie.com – Hamas kembali menegaskan penolakannya terhadap rancangan resolusi Amerika Serikat yang mereka nilai “berbahaya” dan mengancam kedaulatan Palestina.
Protes keras ini muncul menjelang pemungutan suara penting di Dewan Keamanan PBB.
Kelompok yang menguasai Gaza itu menganggap usulan pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) serta agenda demiliterisasi Gaza sebagai pelanggaran terhadap “hak rakyat Palestina untuk melawan”.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, 17 November 2025, Hamas bersama faksi-faksi bersenjata lainnya di Gaza menolak seluruh klausul yang berkaitan dengan pelucutan senjata.
Karena itu, mereka menuding AS berupaya menundukkan Gaza di bawah otoritas internasional. Selain itu, mereka menyatakan bahwa kehadiran militer asing di Jalur Gaza akan melanggar kedaulatan Palestina.
Lebih jauh lagi, Hamas menekankan bahwa pasukan internasional apa pun harus berada langsung di bawah PBB dan bekerja melalui institusi resmi Palestina, “tanpa campur tangan pendudukan”, merujuk pada Israel.
AS Dorong Resolusi Gencatan Senjata
PBB akan memberikan suara pada Senin malam untuk memutuskan resolusi yang mendukung rencana gencatan senjata komprehensif Presiden AS Donald Trump.
Rancangan tersebut menyerahkan otoritas Gaza kepada Pasukan Stabilisasi Internasional serta pemerintahan Palestina yang apolitis di bawah pengawasan Dewan Perdamaian pimpinan Trump.
Selanjutnya, Israel berencana menarik pasukan lebih jauh dari Garis Kuning dan membentuk otoritas transisi untuk memerintah Gaza.
Selain itu, rencana tersebut mendorong pengerahan pasukan multinasional yang akan mengambil alih tugas keamanan Israel, melucuti senjata Hamas, dan memulai rekonstruksi besar-besaran.