Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kanan). Pemerintah Jepang melayangkan protes resmi kepada Tiongkok pada Senin (10/11) atas pernyataan yang dinilai “sangat tidak pantas” dari seorang diplomat senior Beijing terkait PM Sanae. (Kolase @takaichi_sanae)
Poin Utama:
- Jepang protes keras terhadap diplomat Tiongkok, Xue Jian, atas komentar yang dianggap mengancam PM Sanae Takaichi
- Xue menulis di media sosial bahwa Tiongkok siap “memenggal leher” pihak yang menentangnya
- AS mengecam komentar Xue, menyebutnya ancaman terhadap Jepang
- Ketegangan meningkat setelah Takaichi menyebut serangan ke Taiwan dapat memicu respons militer Jepang
- Takaichi adalah PM perempuan pertama Jepang dan dikenal memiliki pandangan keras terhadap Beijing
- Tiongkok menuding Jepang membuat “pernyataan berbahaya” tentang Taiwan
- Takaichi mengklarifikasi pernyataannya bersifat hipotetis dan berjanji menahan diri di masa depan
TOKYO, JurnaLodie.com — Pemerintah Jepang melayangkan protes resmi kepada Tiongkok pada Senin (10/11) atas pernyataan yang dinilai “sangat tidak pantas” dari seorang diplomat senior Beijing terkait Perdana Menteri Sanae Takaichi. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara mengenai isu Taiwan.
Konsul Jenderal Tiongkok di Osaka, Xue Jian, menimbulkan kemarahan setelah menulis di platform media sosial X bahwa Tiongkok “tidak punya pilihan selain memenggal leher kotor” siapa pun yang melanggar batasnya, merujuk pada komentar Takaichi tentang kemungkinan Jepang mengambil tindakan militer jika Beijing menyerang Taiwan.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan bahwa pemerintah Jepang telah menyampaikan keluhan resmi kepada Beijing dan menuntut agar Tiongkok mengambil langkah disipliner terhadap Xue.
“Pernyataan itu sangat tidak pantas dan kami telah berulang kali meminta pemerintah Tiongkok untuk menanganinya dengan serius,” ujarnya di Tokyo dikutip Reuters.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang, George Glass, turut mengecam pernyataan Xue. Melalui unggahan di X, ia menyebut komentar itu sebagai ancaman terhadap Perdana Menteri dan rakyat Jepang, menulis, “Topengnya melorot—lagi.”
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian mengatakan pernyataan Xue merupakan reaksi terhadap ucapan Takaichi yang disebutnya “salah dan berbahaya.”
Ia juga mendesak Tokyo untuk “mempertimbangkan kembali tanggung jawab historisnya” terkait konflik Asia Timur.