Menteri Abdul Mu’ti pidato bahasa Indonesia di Kota Samarkand, Uzbekistan, Selasa 4 November 2025. (Tangkapan layar YouTube UNESCO)
SAMARKAND, JurnaLodie.com – Pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di UNESCO berdampak penting dalam diplomasi budaya dan pendidikan Indonesia di tingkat global.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Abdul Mu’ti pidato bahasa Indonesia di United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Kota Samarkand, Uzbekistan, Selasa 4 November 2025.
Ini adalah kali pertama Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa penyampaian resmi dalam pidato nasional di forum UNESCO.
Dikutip dari kanal YouTube UNESCO, dalam pidatonya, Menteri menyampaikan beberapa poin utama:
Pendidikan adalah hak dasar setiap anak dan tidak boleh ada yang tertinggal.
Solusi terhadap tantangan global tidak hanya ekonomi atau kekuasaan, tetapi melalui manusia yang tercerahkan melalui pendidikan, sains, kebudayaan, komunikasi dan informasi yang membebaskan.
Program‑program Indonesia seperti “Pendidikan Bermutu untuk Semua”, “Gerakan Semesta” untuk mempercepat pencapaian Tujuan Keempat Pembangunan Berkelanjutan (SDG 4), digitalisasi pendidikan, penguatan karakter, pengenalan koding dan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan.
Mendesak komunitas global untuk memastikan keselamatan pelajar, pendidik, jurnalis, relawan kemanusiaan dan pemulihan fasilitas pendidikan serta cagar budaya di zona konflik — khususnya di Gaza, Palestina.
Dalam pembukaan pidato beliau juga menggunakan pantun sebagai pembuka, sebagai bagian simbolik budaya Indonesia.
Bahasa Indonesia telah resmi menjadi bahasa ke‑10 resmi di UNESCO sejak resolusi yang disetujui pada 20 November 2023.